Friday, October 4, 2013

Seribu Arti

Tidak seperti anak perempuan lainnya ia tidak suka bergaul dan tidak menghias wajah dahulu sebelum ke sekolah seperti siswi kutu buku yang selalu membaca buku dimana saja hingga ia mendapat julukan dari anak laki-laki yang ada didalam kelasnya “NIPHA” yang artinya “NidiaPerempuanHarapan”, meski nama aslinya Stephani margareta nama yang indah seperti nama orang kaya saat itu.Namun meski begitu ia merupakan murid kesayangan guru-guru saat itu karna ditiap pelajaran Fisika,Kimia,Biologi,dan Matematika ia selalu mendapat nilai A+ walau tanpa belajar sekalipun. kesempatan itu tentu dimanfaatkan oleh teman-teman kelasnya.

Sebelum dimulainya waktu ulangan kenaikan kelas Kata Rido anak laki-laki gemuk dan jagoan di kelas, “Oi  Nipha yang baik hati, jangan lupa bagi-bagi ya haha.. Awas kamu kalau tidak kasih!”,  “hmm,, iyadeh do” sahut Stephani kepada Rido dengan wajah takut, “Do kalau dapat rezeki sebar-sebarinlah jangan makan sendiri” kata Iksan anak laki-laki pendek berkulit hitam yang duduk didepan meja guru, “yee si item ikut-ikutan mau mancing juga, oke san tenang aj sama gua mah” kata Rido dengan percaya diri.

Kelas pun tiba-tiba riuh saat mendengar suara sepatu guru matematika yang bernama Pak Kans yang biasa disebut killer oleh murid-muridnya karna watak mengajarnya yang keras, “waduh ko si killer sudah dateng nih, jantung saya saranya sampai mau copot nih haha” kata Panji dengan suara meledek, “iye nih nji kaki saya juga sampai gemeteran haha” kata Panji, “Yaampun kalian payah banget sih, sama tuh guru aj berisik! Kan di kelas kita ada Nipha jadi tenang aja..” sahut Rido kepada Eko dan Panji, dan saat itu pun Pak kansi datang lengkap dengan gaya khasnya dia membawa penggaris panjang dan buku dipinggangnya sambil menoleh ke murid-muridnya kelas VIII-3 SMP Bintang Kejora.

Sahut Pak Kans saat memasuki kelas, “Anak-Anak semua sudah siap untuk ulangan hari ini?” Kata Pak Kans dengan suara lantang, “Siap Pak!” seluruh siswa menjawab dengan lantang pula, “Baik sekarang siapkan  alat tulis untuk ulangan dan yang tidak bawa silahkan mengikuti ulangan diluar kelas!” lanjut Pak Kans menerangkan intruksi, “waduh pensil saya ketinggalan, gimana ya ??” kata Rido didalam hati, dan terpikirlah untuk meminjam pensil pada Stephani karena saat ulangan itu tiap meja hanya diperbolehkan duduki untuk satu siswa, “sstt.. tarzan pensil 2B 1 aja sini! Pensil saya ketinggalan nih, buru...” kata Rido dengan berbisik ke Stephani, “iii.iyaa..ini pensilnya” . Namun amat disayangkan Pak Kans melihat tingkah Rido saat meminjam pensil ke Stepahni, “EI Stephani ngapain kamu meminjamkan alat tulis ke Rido, Keluar kamu Rido! Dan Stephani kamu maju kedepan beridiri didepan kelas jangan mengikuti ulangan hari ini!” tegas pak Muji kepada Stephani dan Rido,”tapi pak lalu saya kapan ujiannya?jawab stephani, jwab Pak Kans “ Ya Esok Hari” tegasnya kembali, murid-murid kelas itu pun mulai pucat karena stephani dilarang mengikuti ulangan saat itu.

Pak Kans pun terkejut melihat ekspresi murid-muridnya ketika Rido dan Stephani diberi hukuman “Jadi Hanya segini kemampuan menghitung kalian dan hanya menghandalkan Stephani dan Rido ? Kapan kalian akan berkembang kalau begini terus!” Tegas Pak Muji untuk mengendalikan suasana,

Sahut Pak Kans kepada Rido “Dan Rido Mau seberapa lama lagi kamu disini? Cepat Keluar dan kerjakan soal-soal ini !” Kata Pak Muji sambil memberi soal kepada Rido. “aduhhh kamu sih do pinjem-pinjem segala sampai si nipha tidak boleh mengikuti ulangan..” cela Eko pada Rido yang duduk di dekat pintu kelas, “Apaan sih kamu menghina saja sini aja deh kalau mau ngajak bertengkar?” Sahut Rido dengan ekspresi marah, “ayooo siapa takut?” sahut Eko dengan suara mengejek, “HEI EKO.. RIDO ngapain kalian berdua malah bertengkar didepan kelas? Baik kalian berdua kerjakan soal-soal diluar dan tulis dibuku kalian “Saya Tidak Akan bertengkar lagi dan akan salling mengasihi satu sama lain” sebanyak 20 lembar, CEPAT! Tegas Pak Kans dengan menarik keluar paksa kedua murid itu dan memberi soal ulangan untuk dikerjakan.

Sahut kembali Pak Kans kepada murid-muridnya “baik siapa lagi yg tidak membawa alat tulis dan mau mengikuti mereka ? sahut tegas dari pak Kans, melihat kondisi mulai hening ia pun membagi-bagikan soal dan mulai mengawasi. Setelah ulangan “Baik, nilai-nilai ini akan bapak umumkan esok hari ya murid-murid, sekarang kalian diperbolehkan untuk istirahat dan mengikuti ulangan selanjutnya” akhir kata Pak Kans sebelum meninggalkan kelas.

Ketika jam istirahat Stephani pun melakukan aktifitas seperti biasanya duduk di bangku depan kelas untuk membaca buku koleksinya entah novel maupun buku pelajarannya. “Hei phan kamu baca buku apa itu ? kok rasanya asik banget deh lihat kamu bacanya” tegur Siti yang kebetulan lewat, sahut Stephani “wah iya nih ti buku novel baru rilis dan langsung jadi top list dalam buku novel “Anak Sejuta Bintang” dan “Anak Singkong” nih ti kalau mau baca bareng aku, buku ini penuh inspirasi dan pengalaman yang hebat loh terutama pesan moralnya yang wah” sahut Siti kembali “Wahh.. bener phan materi dan daftar isinya menakjubkan tapi kok tidak ada gambarnya gk ada ya, yah jadi gk seru dong ya”, lanjut Stephani “yaa,, Siitiiii.. kalau novel memang begitu tulisannya itu lebih banyak daripada gambarnya bahkan kebanyakan novel tidak menggunakan gambar dalam isi karyanya, kecuali komik nah itu baru selalu ada gambarnya karna ia menceritakan dalam bentuk gambar dan tulisan”, “ouhhh begitu toh ya phan, soalnya aku juga baru kali ini baca novel karna aku biasanya baca komik hehe,, oh iya! Sebentar lagi mau masuk jam ulangan kedua dan akhir ulangan kita, kamu udah belajar phan? ” sahut Siti ketika melihat jam sekolah, “ouhh.. kalau aku sih sudah belajar tadi sebelum aku baca novel-novel ini..” balas Stephani ,” Wahhh kamu curang ihh,, masa belajar tidak undang-unfang teman” cetus Siti sambil cemberut, “ya maaf siti tadikan aku melihat kamu sedang asik bermain dengan yang lain” lanjut Stephani, “Hhufftttttttt.... terserah deh yaudah ini buku novel kamu, aku mau belajar dulu” sahut Siti sambil melaju ke kelas.

Saat itu pula kebetulan Rido,Iksan,dan Eko melihat kejadian itu dan merekapun mulai berpikir untuk meledeki Stephani , sahut mereka secara bergantian “Hayooo,, Siti kamu apakan phan huuuu....” sahut Eko, “Iya phan kamu apakan sampai mukanya cemberut gitu” sahut iksan, “Tau nih si Niphan! Kalau pinter kasih tau yang lain dong jangan pelit-pelit gitu... Huuuuuu” sahut Rido dan yang lainnya dengan gerakan meledek, sahut Stephani ”hmm,, aku kan tadiii,,, a..ku,,” putus kata sambil masuk kelas sambil hampir menitikkan air mata. Sahut Rido kepada yang lain “Ha ha ha akhirnya nangis juga tuh si genius ha ha ha”, sahut iksan ”Iya tuh do dikira dia bakal bales cerewet ekh ternyata Cuma segitu doang ha ha oh ya masuk kelas yo dah pngen mulai jam ulangan nih”,, “ekh do buru masuk kelas Bu Rena sudah keluar dari ruang guru tuh” Tegur Eko kepada Rido, sahut Rido kepada Eko “Wesss ,, santai aja ko kan kita ada si genius itu ha ha” sambil memasuki kelas.

Jam ulangan kedua pun dimulai, Bu Rena pun memasuk kelas dan mulai membagi-bagikan soal pelajaran Bahasa Indonesia, sambil berkata “kerjakan dengan baik ya murid-murid jangan menyotek terutama kam Rido”, “Waduh sial banget hari ini dua pelajaran kena kecaman terus” cetus Rido dalam hati dengan muka muram. Ketika jam pelajaran hampir selesai Bu Rena memberi intruksi, “Sebentar lagi jam pelajaran hampir selesai jadi murid-murid nanti kalian kumpulkan pada stephani dan Stephani kamu nanti antar ke ruangan ibu ya karna ibu ada perlu”, sahut Stephani kepada Bur Rena “baik bu” , dan Bu Ren pun keluar dan kembali ke ruangannya , “Okeeee kesempatan emas,,” cetus Rido sambil menoleh ke kertas ujiannya Stephani “ekhh,, Phan sini saya liat dong” tegur Rido sambil menarik keras ujiannya Stephani, “Wahh,, dah selesai toh , sib lakh , salin dulu ya” lanjut Rido , sahut teman-teman laki-lakinya dan perepuannya “WAHHH DO, DO LIAT JUGA DONG” hingga suasana kelas menjadi riuh, sahut Stephani “akh jangan dong aku kan udah susah payah mengerjakannya”, lanjut Rido kepada Stephani “akh apaan sih, bagi-bagi lah ke yang lain” sambil mendorong Stephani.

Jam ulangan pun selesai dengan di tandai bel sekolah yang berdering yang mengartikan sebagai hari terakhir skolah di SMP itu sebelum hari pengumuman nilai dan wisuda, stephani pun mengantarkan hasil ulangan kepada Bu Rena, “Ini bu hasil ulangan tadi” kata Stephani kepada Bu Rena sambil menjulurkan hasil ulangannya dan teman sekelasnya, “Baik, terima kasih Phani” sahut Bu Rena sambil menerima hasil ulangan.

Seperti biasa sepulang sekolah, Rika, Siti, dan Komala selalu pulang bersama namun ada hal yang berbeda hari ini karena Siti meminjam buku novel Stephani, “Ei ti ,, lama kelamaan kaya si nipha aja kamu baca buku gitu he he..” tegur Komala, “hush.. sahabat kita itu mala he he,, tapi kalau dia jadi pinter juga sih hebat he he he , ekh” lanjut candaan Rika, “Apasih kalian.. aku kan cuma baca novelnya Nipha, inti bukunya hebat lohh..” jawab Siti pada sahabatnya, “akh malu ahh ... nanti kalau sering baca nama panggilan dari cowok aku bukan “Rika Cantik” ekh malah jadi “Rika Kutu Buku” , huft.. emang aku kutuan” cetus Rika , “ha ha ha, ngelawak mulu nih Rika kaya biasanya he he,, tapi tidak ada salahnya kan kalau kita coba lihat bukunya si nipha itu siapa tau emang bermanfaat” jawab Komala untuk menasihati Rika.

Sesampai dirumah, Rika langsung ke kamarnya dan menelpon sahabatnya Siti karna dia begitu penasaran oleh buku nipha yang dibaca oleh sahabat-sahabtnya itu sampai Komalapun ikut serius membacanya. “kriinggg..... “kriinnggg ,, “halo bisa bicara dengan Siti” tanya Rika di telepon, “iya bisa kebetulan siti baru saja pulang, hmm,, sebelumnya ini dari siapa ya?” jawab Ibunya Siti, “owhh ada ya, ini Rika tante bisa bicara dengan Sitinya?” lanjut Rika di telepon, “owhh.. dek Rika tunggu dulu ya .. tante panggil dulu sitinya,, SITI...SITI,,, ITU ADA RIKA NELPON” jawab ibunya Rika sambil memanggil Siti dikamarnya , “Halo, Rika ya ? ada apa rik? Maaf tadi aku lagi asik baca buku novelnya nipha yang aku tunjukin ke kamu itu” jawab Siti di telepon sambil menjelaskan, “ouhh,, begitu ya , begini ti sebenernya aku juga penasaran sama buku itu boleh tidak kita baca bersama di rumahku?” jawab Rika dengan malu , “ohh oke-oke ,, lagi tadi segala malu sih padahalkan cuma baca buku , he he he” jawab Siti dengan nada canda, “ya itu karna .. ya itu ,, pokoknya nanti datang kerumahku ya terimakasih he he” jawab Rika sambil menutup telepon. “ha ha Rikaa rika ada aja tingkahnya he he” kata Siti dalam hatinya setelah menerima telepon dari sahabatnya, “Siti tadi ada apa sahabatmu itu telpon ?” tanya Ibunya Siti , “Ekh Ma,maa .. ngagetin aja , gk itu tadi Rika hanya mau pinjam novel dan baca bareng, oh ya Siti pamit dulu ya ke rumah Rika” pamit Siti sambil mencum tangan Ibunya.

 Sesampai Dirumahnya Rika, “Rikaa.. Permisi..Rikaaa... Permisi... Permisi.. ” Panggil Siti sambil mengetuk rumah Rika. “iyaaaaa... tungguuu ” sahut Rika dari dalam rumah menuju sumber suara, ketika sudah sampai Rika bertanya, “Siapa ya ?” sambil mengintip dari horden, “Ini Siti Rik,,,” jawab Siti, “Ouh Siti,, i..iyaa.. masuk-masuk aja ti” jawab Rika sambil mempersilahkan masuk sahabatnya itu. Mereka pun bercanda gurau seperti biasanya  “Oh iya Rik , ini aku bawa novelnya nipha yang ingin kamu pinjam” sambil memberi buku yang sesaat itu dia bawa-bawa. “Wah ini nih yang bikin penasaran dari tadi pulang sekolah, isinya apaan ya” kata Rika dalam hati ketika menerima buku nipha yang ada di Siti.

Dan dari saat itulah mereka mulai gemar membaca berbagai buku novel, komik, majalah, bahkan buku pelajaran yang sebelumnya mereka malas menyentuhnya sekalipun.

Pagi pun tiba kembali papan nilai ujian dan kelulusan pun sudah dipampangkan oleh guru-guru, apel pagipun dimulai, “Selamat pagi semuanya terutama untuk anak-anakku yang saya banggakan hari ini dan para guru dan staf yang telah mengajarkan mereka ini, salam sejahtera, hari ini adalah hari yang membanggakan untuk kita semua karna kita akan mengetahui hasil belajar kalian di sekolah ini. Dan ada satu kalimat yang akan saya beritakan, yaitu Selamat Kalian LULUS 100% dan untuk nilai terbaik disekolah ini diperoleh ,, Stephaniii dengan nilai rata-rata 9,8 dan untuk yang lainnya jika ingin melihat hasil nilai kalian, kalian dapat melihatnya dipapan mading sekolah, terimakasih” pidato singkat dari kepala sekolah dengan diiringi sorak dan tepuk tangan bahagia terutama untuk stephani yang memperoleh nilai tertinggi dari murid-murid lainnya diakhir sambutannya.

Di mading sekolah, kata Rika pada teman-temannya dengan rasa kecewa “huh,, coba kita lebih giat belajarnya pasti kita yang akan dapat nilai terbaik tuh” lanjut teman-temannya dengan maksud meledek “lakh itu bukannya pantas untuk si niphan itu dia kan kutu buku ya wajar aja lah.. memang kamu ingin jadi kutu buku juga ka ? hah ? hahah”, “huh, dasar kalian gk mau berubah ya! Ya kalau sampai jadi kutu buku ya engga juga lah mana ada yang mau selain dia” jawab Rika sekenanya dengan gugup, “Hei Ka gimna nilai kamu ?? dapet berapa nih ? kan kamu biasanya ranking 2 dikelas ,, kalau aku Cuma dapat rata-rata 7,8 ,sedikit ya ka” tegur Siti didepan mading, “wahh itu sudah cukup bagus ti,, kalau aku dapat rata-rata 8,7 ti, masih jauh ya dibanding dengan stephani” jawab stephani sambil menghibur siti, “wahh hebat tuh ka, and tumben nih gk panggil stephani dengan julukannya? Ada apa gerangan nih, hehe” jawab Siti dengan canda khasnya, “ya thanks ti, dan kalau tentang si stephani,,, hmmm,, ya gitu deh ti kayanya aku bakal ikutin jejaknya dia coba baca buku mudahan aja berguna untuk masa depanku tuk jadi dokter ti” jawab Rika dengan sepenuh hati, “wahh...  ini baru hebat, aku juga ikut jejaknya deh bersama kita menuju masa depan baru,, hahah” jawab Siti dengan semangat, “hahaha ada-ada saja kamu ti ha ha” jawab Rika dengan gelagap tawa karna candaan sahabatnya Siti.

 Tak lama kemudian Rido dan temannya menghampiri Rika dan Siti, “Hei kalian ngaapain ketawa-ketawa hah? Memang ada yang lucu apa ? tegur Rido dengan kasar, “ya karena luculah, lagian kamu ngapin coba marah-marah ke kita ? apa karna nilaimu terendah disekolah ini ha ?? hahaha lagian sih sok pintar karna ada stephani” jawab Siti dengan menghina Rido karena hasil nilainya, “Akh apaan sih kau, sok pintar aja kau nilai kau itu tak jauh beda ya dengan aku, sayang saja kau perepuan kalau tidak sudah ku ajak kelahi kau” jawab Rido dengan sedikit mendorong Siti, “Ikh Rido apa-apan sih udahlah kalau kamu kecewa karna nilai kamu ya berubahlah kaya stephani” sindir Rika sambil menahan Siti yang didorong Rido, “do mending kita pergi aja yok dari pada makin ruwet” nasehat Eko pada Rido, dan mereka pun pergi dan pulang kerumah masing-masing

15 TAHUN KEMUDIAN,,,

Mereka pun berubah menjadi seperti yang mereka inginkan dengan kesibukan-kesibukan mereka sendiri, dari mimpi dan cita-cita hingga menjadi kenyataan seperti Stephani yang menjadi Guru TK dan SMP, dan Rika yang kini menjadi Dokter Specialis kandungan di beberapa rumah sakit, Siti yang kini menjadi penulis yang terkenal bahkan saat ini ia telah membuat 10 karya tulisnya yang selalu menjadi best seler di berbagai toko buku, Komala menjadi Polwan yang bertugas di Jakarta , dan Eko menjadi Polisi gadungan dengan menyogok beberapa uang untuk menjadi polisi dan berakhir di sel tahanan karna ketahuan menyogok, ikhsan menjadi designer di sebuah percetakan di jakarta karna kegigihannya dalam belajar, Panji menjadi arsitektur bangunan yang cukup terkenal akan imajinasinya, dan terakhir Rido karna kemalasannya dan selalu mengulur-ulur waktu ia pun hanya menjadi pengangguran hingga kini.

No comments:

Post a Comment